Minggu, 30 Januari 2011

Maaf jika Saya "Perkasa"

Senyum nyiyir, dahi mengkerut ....
Mungkin itu tanggapan pertama kali saat melihat judul dari tulisan ini. Ya sudahlahh .... ini hanya sebagian dari isi hati dan pemikiran saya. Maaf jika ada yang tidak berkenan.

Hati menjadi pilu dan kelu saat mimpi ini tak dapat bertemu
Hasrat yang meninggi kini harus jatuh kembali
Tertohok oleh timbunan norma yang mendera
Kini mimpi hanya cidera dalam asa
Katika pilihan hanya menjadi dilema
Benar atau salah
Maka tidak ada jalan untuk mendua

Puisi pembukaan mungkin sedikit banyak dapat memberikan gambaran akan suasana dalam hati ini yang sebenarnya. Sudah lama kami (baca: kaum wanita) telah bosan atau kasarnya muak terhadap norma yang sangat menusuk untuk kami atau saya lebih tepatnya. Keinginan saya dengan manusia lainnya sama. Saya tidak meminta reformasi di sini, saya tidak membicarakan resuffle di sini, saya tidak menuntut penggulingan rezim apapun saat ini. Kejengahan terbuka saat saya yang merupakan seorang wanita harus terjebak dengan segala nilai. Bukan bermaksud untuk melanggar bahkan mengabaikan segala nilai yang seharusnya saya patuhi namun dengan tidak juga melarang segala yang saharusnya bisa saya lakukan tanpa menciderai hukum yang ada.

Senin, 10 Januari 2011

Pilihan Jalan


Saya percaya atau lebih tepatnya setuju bagi pemikiran untuk menunda usia nikah dengan alasan yang masuk akal. Penundaan usia untuk melengkapai sebagian dari agama itu dimaksudkan untuk mengejar semua yang saya impikan agar terwujud. Beribu bahkan berjuta impian saya telah menunggu untuk dijemput keberadaannya oleh saya, orang yang telah membuat keberadaannya, dan apakah saya harus melepaskan itu semua dalam waktu yang sangat singkat.
Saya memutuskan dari sekarang untuk menunda usia nikah disebabkan pemikiran bahwa saya ingin mengejar sesuatu dan mendapatkan apa yang belum tentu bisa saya dapatkan apabila saya sudah menikah. Bukan maksud saya untuk mengesampingkan untuk agama saya namun jalan yang saya ambil adalah untuk kabaikan banyak orang bahkan negara ini, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain. Saya takut apa yang saya rencanakan untuk kebaikan bersama akan tertunda atau mungkin tidak terlaksana disebabkan kewajiban saya terhadap sisi lain. 
Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk masa depan negeri ini agar lebih baik dan dapat merebut kembali kabanggaan yang telah lama hilang.

Sabtu, 08 Januari 2011

Saat Timnas Kami Dipolitisasi

Melajunya Timnas Indonesia ke puncak perhelatan sepak bola di regional ASEAN menjadi obat mujarab untuk mengobati perihnya duka negeri ini terhadap berbagai bencana yang terjadi mulai dari bencana alam sampai dengan bencana kemanusiaan. Ekspektasi yang luar biasa terhadap Timnas Indonesia merupakan hal yang wajar mengingat keringnya prestasi timnas sepuluh tahun terakhir ini namun tampilnya timnas di final Piala AFF menimbulkan fenomena tersendiri. Semakin meroketnya penampilan timnas begitu pula cobaan yang harus dihadapi sebelas lelaki kebanggaan rakyat ini. Ketika logo garuda yang merupakan ciri khas jersey timnas Indonesia ini digugat oleh seorang pengacara bernama David ML Tobing. Agak menggelitik memang karena penggunaan logo garuda itu sudah ada sejak tahun 1956 namun gugatan diajukan saat timnas Indonesia telah melaju sampai semifinal AFF Cup 2010. Mencari popularitas mungkin, mengingat hal apapun yang berhubungan dengan timnas saat ini sangat lahir manis untuk diperbincangkan sejalan dengan prestasi timnas.
hmm ... tapi ya sudahlah, toh hal tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap permainan Timnas Indonesia. Timnas kita berhasil menuntaskan targetnya untuk menempatkan satu tempat di babak final, hal yang telah kali keempat dirasakan Timnas Indonesia. 
Tetapi bagaimana halnya jika timnas kebanggaan rakyat Indonesia ini dijadikan kendaraan politik oleh elite politik di negeri ini demi pencitraan dimuka publik demi melancarkan segala keinginannya ? hal yang menggelikan memang melihat upaya mereka untuk membangun citra publik melalui salah satu olahraga favorit di negeri ini. Banyak agenda yang mereka rencanakan untuk seolah menggambarkan kebaikan hati mereka terhadap Timnas Indonesia. Bermula dari mengunjungi salah satu tokoh politik yang memiliki track record sangat buruk dalam kehidupan Indonesia dalam segala aspek. Patut dipertanyakan kenapa harus dengan AB timnas kami dibawa ? sementara orang nomer satu di negeri ini harus mendatangi lapangan untuk memberikan support untuk timnas ? terdapat hubungan apakah antara ketua organisasi sepak bola tertinggi di negeri ini dengan salah satu konglomerat itu ? ohh .. mungkin hanya perasaan saya yang tak beralasan saja untuk menebak-nebak apa yang terjadi antar keduanya.
Agenda selanjutnya adalah berdoa bersama. Baik memang, sangat sangat baik tetapi haruskah seperti itu ? Saya yakin kalau Tuhan dalam hal ini Allah tidak memihak dalam sepak bola kalaupun iya pasti dia menginginkan yang terbaik untuk semuanya termasuk negeri ini beserta masyarakatnya. Saya percaa Tuhan saya telah menetapkan apa yang terbaik tanpa intervensi dari siapapun selain berdoa, berusaha dengan hati yang bersih serta niat yang lurus.
Akibat agenda plesiran tersebut jadwal latihan serta persiapan untuk partai yang sangat berat yaitu final jadi terbengkalai. Akibatnya timnas gagal (lagi) merebut kebanggaanya yang telah lama hilang. Suporter Indonesia kecawa namun mereka dewasa untuk menerima segalanya. 
Beribu-ribu alasan didengung-dengungkan oleh petinggi organisasi sepak bola legal di negeri ini. termasuk menyalahkan atau lebih tepatnya lagi memfitnah timnas lawan. Hal tersebut tidak lain untuk menutupi betapa bodohnya perilaku mereka. Perilaku pecundang yang selalu haus akan kekuasaan. Akibatnya timnas kami kehilangan konsentrasi, kelelahan, dan apapun namanya itu yang membuat permainannya tidak menunjukan sebuah kwalitas. Belum lagi saat apa yang direncanakan pelatih dalam strategi permainan diacak-acak sesuka hati kalian dan dengan kehendak kalian untuk masuk-keluar ruang ganti pemain yang merupakan tempat otoritas dari pelatih yang juga akan mengganggu apa yang sudah dipertimbangkan.
Sungguh, perilaku kalian sangat memalukan bapak yang terhormat .....

Bencinya Saya kepada Anda


Autis
Barangkali itu yang diinginkan penguasa negeri ini untuk rakyatnya. Berbagai pemberitaan bobroknya negeri ini terus bermunculan silih berganti seolah ingin menggantikan dan ingin diperhatikan. Dalam proses pencerdasar pemberian berita yang aktual oleh mesia massa terutama televisi melalui stasiunnya merupakan salah cara untuk masyarakat negeri ini mengetahui secara jelas bagaimana keadaan negerinya namun bagaimana jika stasiun televisi yang seharusnya memberikan pencerahan kepada masyarakat dan bersikap netral dalam penyampaian pemberitaannya mulai dimiliki oleh seorang penguasa dan mulai ditunggangi oleh kebutuhan politiknya ?
Siapa yang dirugikan ?
Lawan politiknya kah ?
Seteru abadinya kah ?
Tidak tuan-tuan, rakyat bangsa ini yang dirugikan oleh ulah kalian. Apakah kalian menganggap rakyat adalah objek permainan politik kalian untuk meloloskan segala keinginan kalian.
Belum selesai penyelesaian terhadap suatu permasalahan kemudian muncul lagi permasalahan baru yang (juga) harus diselesaikan. Bagitu indah permainan tuan dalam hal ini namun besarnya rasa cinta kami terhadap tanah air ini tidak akan menyurutkan keinginan kami untuk membuat bagsa ini lebih manusiawi untuk ditinggali.
Segala macam cara Anda dan kroni-kroni Anda untuk membuat citra Anda begitu indah dihadapan publik. Kalian memanfaatkan milik kami untuk kebutuhan politik Anda. Anda menggunakan timnas kami untuk keuntungan pribadi Anda. Dimanakah hati nurani Anda wahai tuan yang terhormat ? atau memang itu semua sudah musnah tertimbun oleh ketamakan Anda untuk menguasai negeri ini.
Tuan, bangsa ini butuh mempertahankan kehormatannya, rakyat ini butuh merebut kembali harga dirinya namun kenapa Anda yang berbicara dibanyak kesempatan mencintai negeri ini dan mendukung timnas kebanggaan rakyat Indonesia melakukan hal bodoh bahkan memalukan dengan mengacak-acak timnas kami. Jangan Anda politisasi kebanggaan rakyat ini hanya untuk keuntungan Anda dan anak keturunan Anda. Banyak janji-janji manis yang akan Anda lakukan untuk timnas kami, namun mana realisasinya ? Apakah karena kami kalah dan Anda kehilangan banyak momentum untuk menambah pencitraan Anda ? Kalau terjadi yang demikian, maka kami patut bersyukur kepada Allah, Tuhan kami atas segala keputusannya.
Tak berhenti disitu tuan, belum selesai penjelasan Anda mengenai permasalahan yang lama bergulir lalu dengan begitu mudah Anda melemparkan permasalah baru yang menyangkut hajat hidup rakyat bangsa ini. Segala macam perekomonian Anda permainkan tuan, sungguh dimanakah hati nurani Anda ?
Omong kosong jika Anda mengatakan mencintai bangsa ini, tanah air kami.
Anda tidak melebihi seekor lintah yang setiap saat menggerogoti darah rakyat untuk kesejahteraan Anda dan anak keturunan Anda. Harta banyak, kedudukan strategis dalam pemerintahan, serta banyaknya pengikut setia Anda membuat seolah Anda sangat berkuasa atas negeri ini namu jangan lupa tuan, ada rakyat yang selalu mengawasi Anda dan siap pula kala waktu untuk meruntuhkan hegemoni Anda. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan, kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan.

Senin, 03 Januari 2011

Saya Besyukur Sejarah

Bukan jurusan favorit
Bukan pelajaran yang menyenangkan
Masa depan yang ada belum menjanjikan
Itulah sebagian kecil dari pernyataan orang-orang yang mengetahui bahwa jurusan yang saya ambil dalam menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri yang katanya terbaik di negeri ini yaitu jurusan Sejarah tepatnya kalau di UI namanya Ilmu Sejarah.
bagaimanakah mereka bisa menilai sesuatu yang mereka belum tahu keberadaannya. Kenapa harus ada penilaian sepihak.
Dijurusan ini memang sedikit yang muncul sebagai orang besar di negeri ini tapi banyak lulusan jurusan ini yang banyak membawa pengaruh untuk sekitar bahkan Indonesia. Apakah orang hebat harus terkenal ? apakah orang hebat harus kaya ?
Banyak poin dalam jurusan ini tepatnya jurusan Ilmu Sejarah FIB UI yang memberikan pengaruh lebih dalam berpikir dan bertindak.
Bagaimana mungkin kesalahan yang terjadi pada masa lalu dapat terjadi (lagi) pada saat ini ?
Bukankah itu bagian dari tidak maunya orang-orang untuk mempelajari kehidupan bangsanya di masa lalu yang membuat kesalahan itu juga terjadi pada saat ini.
Sejarah mengajarkan negeri ini semuanya. Dia begitu lugu untuk menggambarkan dan menjelaskan apa kebobrokan negeri ini. Tetapi dia juga menyimpan banyak kenangan terhadap kejayaan negeri ini. Negeri yang katanya sangat subur hingga tongkat dan kayu bisa menjadi tanaman.
Sejarah begitu indah hingga ia pun akan mengindahkan siapa yang mengindahkannya.

Penilitian dalam membuatnya pun tidak sebatas dengan kemampuan untuk menjelajah atau menulis, tetapi lebih dari itu. kejujuran dan profesionalisme dalam tindakan dan bekerja memberikan nilai plus yang besar terhadap penelitiannya.
Penerimaan terhadap kesaksian narasumber juga menjadi pembelajaran tersendiri. Dalam mencari informasi kami (baca: mahasiswa ilmu sejarah) tidak serta merta dengan begitu saja dapat menetapkan seseorang sebagai narasumber dari suatu penelitian panulisan sejarah tetapi kami harus mengetahui sejauh mana keberadaan dia dari peristiwa sejarah yang dimaksud. Dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun sifat kritis dalam menghadapi issue apapun, bagaimana mungkin ilmu yang sangat berguna dan bernilai ini bisa dipandang sebelah mata ?
ahh .. mungkin mereka belum mengetahui bagaimana cara mainset kami bekerja

Dan yang saya tahu jurusan ini sangat menarik, bagaimana mungkin kejadian masa lalu bisa ditelaah dan direkonstruksi ulang untuk pembelajaran untuk peradaban manusia yang lebih baik bahkan untuk kebaikan perjalanan suatu bangsa.

Ini hanyalah pandangan subjektif dari seorang mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah yang sedikit menceritakan mengenai jurusannya.
Tentu isi yang ada di dalamnya berdasarkan pengelaman saya belajar di jurusan tersebut.

Minggu, 02 Januari 2011

Ketika Pahlawan itu Dilupakan

Aneh, mungkin
Wajar, hmm...
Itu kata-kata yang sempat menjelajah dipikiran saya. Bagaimana mungkin sebuah negara yang tumbuh dan besar dengan perjuangan para pahlawannya dengan sangat begitu mudah melupakan bahkan menghina pahlawan yang telah berjuang besar untuk membesarkan nama bangsa ini ditingkat internasional. tentu bukan pahlawan seperti biasanya yang saya ungkap disini melainkan salah satu pahlawan sepak bola Indonesia yaitu Bambang Pamungkas atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bepe. Pemain yang akrab dengan nomer punggung 20 ini telah lebih dari 11 tahun (saat 2011) membela timnas Indonesia, selama itu pula prestasi bepe untuk membanggakan negeri ini terus menanjak.
Pada tulisan ini yang saya soroti adalah bagaimana ekspektasi publik terhadap seorang Bepe menurun seiring menurun pula kwalitas permainannya. Usia yang terus berlanjut, munculnya pemain muda sepak bola Indonesia dengan segala kelebihannya, dan berbagai kondisi terkini sepak bola Indonesia yang juga berdampak terhadap pandangan publik terhadap kinerja Bepe. Tapi memang seperti itulah hidup, ada saatnya kita mulai, namun ada pula waktunya kita sadar untuk turun dalam hal ini yaitu atraksi Bepe dalam mengolah sikulit bundar.
Keyakinan terhadap Bepe untuk berbuat banyak bagi Timnas Indonesia mulai menurun apalagi untuk membawa timnas ini berjaya dalam suatu pergelaran mengingat dalam sebelas tahun kiprahnya di Timnas Indonesia belum menghasilkan satu tropipun, namun apakah terlalu adil jika kita menilai seseorang hanya dua tahun belakangan dengan segala kekurangannya dan melupakan sembilan tahun lainnya dengan semangatnya untuk membuat bangga bangsa ini beserta rakyatnya dengan jalan yang digelutinya, olahraga kebanggaan dan favorit rakyat Indonesia, sepak bola. Lebih bijak apabila kita melihat keseluruhan perjalanan dari seseorang apalagi jika orang tersebut banyak membuat kebanggaan negeri ini terlepas dari mana klub yang dibelanya.
Turunnya performa pemain bola di lapangan dapat terjadi pada siapapun termasuk pemain bola kelas dunia. Sebut saja David Beckham, Ronaldo, Ronaldinho, atau siapapun. Masih ingat dalam bayangan betapa hebatnya mereka bermain-main dengan sikulit bundar bahkan banyak gelar yang mereka berikan untuk klub dan negaranya baik pergelarang tingkat nasional maupun internasional. Bahkan banyak rekor yang mereka ukir sampai pada pembelian dari klub papan atas Eropa dengan harga yang selangit, namun apakah itu berjalan terus menerus ? semua itu berhenti pada suatu titik dimana performa mereka menurun dan lambat laun juga akan memberikan tempat untuk wajah yang lebih muda, tetapi tidak serta merta dengan sebegitu mudah kita melupakan bahkan menghina dan menghujat ketika permainan yang ditampilkan tidak sesuai dengan harapan tanpa melihat sisi lain dari sebuah pertandingan dan penampilan dan sebuah suksesi sejarah.

Tulisan ini tidak serta merta hanya sebatas bentuk dukungan terhadap Bepe dalam kerier sepak bolanya namun lebih dari itu untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain terhadap apayang sebaiknya dilakukan untuk menyikapi setiap permasalah "musiman" yang terjadi dengan melihat sisi lainnya tanpa mengguatkan etnosentrisme.