Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

Sajak Sebatang Lisong


menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
W.S. RENDRA

Minggu, 30 Januari 2011

Maaf jika Saya "Perkasa"

Senyum nyiyir, dahi mengkerut ....
Mungkin itu tanggapan pertama kali saat melihat judul dari tulisan ini. Ya sudahlahh .... ini hanya sebagian dari isi hati dan pemikiran saya. Maaf jika ada yang tidak berkenan.

Hati menjadi pilu dan kelu saat mimpi ini tak dapat bertemu
Hasrat yang meninggi kini harus jatuh kembali
Tertohok oleh timbunan norma yang mendera
Kini mimpi hanya cidera dalam asa
Katika pilihan hanya menjadi dilema
Benar atau salah
Maka tidak ada jalan untuk mendua

Puisi pembukaan mungkin sedikit banyak dapat memberikan gambaran akan suasana dalam hati ini yang sebenarnya. Sudah lama kami (baca: kaum wanita) telah bosan atau kasarnya muak terhadap norma yang sangat menusuk untuk kami atau saya lebih tepatnya. Keinginan saya dengan manusia lainnya sama. Saya tidak meminta reformasi di sini, saya tidak membicarakan resuffle di sini, saya tidak menuntut penggulingan rezim apapun saat ini. Kejengahan terbuka saat saya yang merupakan seorang wanita harus terjebak dengan segala nilai. Bukan bermaksud untuk melanggar bahkan mengabaikan segala nilai yang seharusnya saya patuhi namun dengan tidak juga melarang segala yang saharusnya bisa saya lakukan tanpa menciderai hukum yang ada.

Sabtu, 08 Januari 2011

Saat Timnas Kami Dipolitisasi

Melajunya Timnas Indonesia ke puncak perhelatan sepak bola di regional ASEAN menjadi obat mujarab untuk mengobati perihnya duka negeri ini terhadap berbagai bencana yang terjadi mulai dari bencana alam sampai dengan bencana kemanusiaan. Ekspektasi yang luar biasa terhadap Timnas Indonesia merupakan hal yang wajar mengingat keringnya prestasi timnas sepuluh tahun terakhir ini namun tampilnya timnas di final Piala AFF menimbulkan fenomena tersendiri. Semakin meroketnya penampilan timnas begitu pula cobaan yang harus dihadapi sebelas lelaki kebanggaan rakyat ini. Ketika logo garuda yang merupakan ciri khas jersey timnas Indonesia ini digugat oleh seorang pengacara bernama David ML Tobing. Agak menggelitik memang karena penggunaan logo garuda itu sudah ada sejak tahun 1956 namun gugatan diajukan saat timnas Indonesia telah melaju sampai semifinal AFF Cup 2010. Mencari popularitas mungkin, mengingat hal apapun yang berhubungan dengan timnas saat ini sangat lahir manis untuk diperbincangkan sejalan dengan prestasi timnas.
hmm ... tapi ya sudahlah, toh hal tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap permainan Timnas Indonesia. Timnas kita berhasil menuntaskan targetnya untuk menempatkan satu tempat di babak final, hal yang telah kali keempat dirasakan Timnas Indonesia. 
Tetapi bagaimana halnya jika timnas kebanggaan rakyat Indonesia ini dijadikan kendaraan politik oleh elite politik di negeri ini demi pencitraan dimuka publik demi melancarkan segala keinginannya ? hal yang menggelikan memang melihat upaya mereka untuk membangun citra publik melalui salah satu olahraga favorit di negeri ini. Banyak agenda yang mereka rencanakan untuk seolah menggambarkan kebaikan hati mereka terhadap Timnas Indonesia. Bermula dari mengunjungi salah satu tokoh politik yang memiliki track record sangat buruk dalam kehidupan Indonesia dalam segala aspek. Patut dipertanyakan kenapa harus dengan AB timnas kami dibawa ? sementara orang nomer satu di negeri ini harus mendatangi lapangan untuk memberikan support untuk timnas ? terdapat hubungan apakah antara ketua organisasi sepak bola tertinggi di negeri ini dengan salah satu konglomerat itu ? ohh .. mungkin hanya perasaan saya yang tak beralasan saja untuk menebak-nebak apa yang terjadi antar keduanya.
Agenda selanjutnya adalah berdoa bersama. Baik memang, sangat sangat baik tetapi haruskah seperti itu ? Saya yakin kalau Tuhan dalam hal ini Allah tidak memihak dalam sepak bola kalaupun iya pasti dia menginginkan yang terbaik untuk semuanya termasuk negeri ini beserta masyarakatnya. Saya percaa Tuhan saya telah menetapkan apa yang terbaik tanpa intervensi dari siapapun selain berdoa, berusaha dengan hati yang bersih serta niat yang lurus.
Akibat agenda plesiran tersebut jadwal latihan serta persiapan untuk partai yang sangat berat yaitu final jadi terbengkalai. Akibatnya timnas gagal (lagi) merebut kebanggaanya yang telah lama hilang. Suporter Indonesia kecawa namun mereka dewasa untuk menerima segalanya. 
Beribu-ribu alasan didengung-dengungkan oleh petinggi organisasi sepak bola legal di negeri ini. termasuk menyalahkan atau lebih tepatnya lagi memfitnah timnas lawan. Hal tersebut tidak lain untuk menutupi betapa bodohnya perilaku mereka. Perilaku pecundang yang selalu haus akan kekuasaan. Akibatnya timnas kami kehilangan konsentrasi, kelelahan, dan apapun namanya itu yang membuat permainannya tidak menunjukan sebuah kwalitas. Belum lagi saat apa yang direncanakan pelatih dalam strategi permainan diacak-acak sesuka hati kalian dan dengan kehendak kalian untuk masuk-keluar ruang ganti pemain yang merupakan tempat otoritas dari pelatih yang juga akan mengganggu apa yang sudah dipertimbangkan.
Sungguh, perilaku kalian sangat memalukan bapak yang terhormat .....