Minggu, 02 Januari 2011

Ketika Pahlawan itu Dilupakan

Aneh, mungkin
Wajar, hmm...
Itu kata-kata yang sempat menjelajah dipikiran saya. Bagaimana mungkin sebuah negara yang tumbuh dan besar dengan perjuangan para pahlawannya dengan sangat begitu mudah melupakan bahkan menghina pahlawan yang telah berjuang besar untuk membesarkan nama bangsa ini ditingkat internasional. tentu bukan pahlawan seperti biasanya yang saya ungkap disini melainkan salah satu pahlawan sepak bola Indonesia yaitu Bambang Pamungkas atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bepe. Pemain yang akrab dengan nomer punggung 20 ini telah lebih dari 11 tahun (saat 2011) membela timnas Indonesia, selama itu pula prestasi bepe untuk membanggakan negeri ini terus menanjak.
Pada tulisan ini yang saya soroti adalah bagaimana ekspektasi publik terhadap seorang Bepe menurun seiring menurun pula kwalitas permainannya. Usia yang terus berlanjut, munculnya pemain muda sepak bola Indonesia dengan segala kelebihannya, dan berbagai kondisi terkini sepak bola Indonesia yang juga berdampak terhadap pandangan publik terhadap kinerja Bepe. Tapi memang seperti itulah hidup, ada saatnya kita mulai, namun ada pula waktunya kita sadar untuk turun dalam hal ini yaitu atraksi Bepe dalam mengolah sikulit bundar.
Keyakinan terhadap Bepe untuk berbuat banyak bagi Timnas Indonesia mulai menurun apalagi untuk membawa timnas ini berjaya dalam suatu pergelaran mengingat dalam sebelas tahun kiprahnya di Timnas Indonesia belum menghasilkan satu tropipun, namun apakah terlalu adil jika kita menilai seseorang hanya dua tahun belakangan dengan segala kekurangannya dan melupakan sembilan tahun lainnya dengan semangatnya untuk membuat bangga bangsa ini beserta rakyatnya dengan jalan yang digelutinya, olahraga kebanggaan dan favorit rakyat Indonesia, sepak bola. Lebih bijak apabila kita melihat keseluruhan perjalanan dari seseorang apalagi jika orang tersebut banyak membuat kebanggaan negeri ini terlepas dari mana klub yang dibelanya.
Turunnya performa pemain bola di lapangan dapat terjadi pada siapapun termasuk pemain bola kelas dunia. Sebut saja David Beckham, Ronaldo, Ronaldinho, atau siapapun. Masih ingat dalam bayangan betapa hebatnya mereka bermain-main dengan sikulit bundar bahkan banyak gelar yang mereka berikan untuk klub dan negaranya baik pergelarang tingkat nasional maupun internasional. Bahkan banyak rekor yang mereka ukir sampai pada pembelian dari klub papan atas Eropa dengan harga yang selangit, namun apakah itu berjalan terus menerus ? semua itu berhenti pada suatu titik dimana performa mereka menurun dan lambat laun juga akan memberikan tempat untuk wajah yang lebih muda, tetapi tidak serta merta dengan sebegitu mudah kita melupakan bahkan menghina dan menghujat ketika permainan yang ditampilkan tidak sesuai dengan harapan tanpa melihat sisi lain dari sebuah pertandingan dan penampilan dan sebuah suksesi sejarah.

Tulisan ini tidak serta merta hanya sebatas bentuk dukungan terhadap Bepe dalam kerier sepak bolanya namun lebih dari itu untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain terhadap apayang sebaiknya dilakukan untuk menyikapi setiap permasalah "musiman" yang terjadi dengan melihat sisi lainnya tanpa mengguatkan etnosentrisme.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar